Kontroversi Selamat Natal, Memperingati Yesus Bukan Santa




Ada yang menarik dalam kalender 2015, setahun mendatang. Secara perhitungan kasar, peringatan kelahiran Yesus (Natal) dan Sayyidina Muhammad (Maulud) memiliki tanggal terdekat sepanjang sejarah hidupku. Mungkin akan rame setahun mendatang. Mengenai Natal sendiri, seingatku, orang yang pertama kali memberikan ucapan Selamat Natal kepadaku adalah Khinant. Anggota The Class of 1994 yang silsilahnya bertemu pada Canggah (mbahnya mbahku), mbah Tisno Wijoyo ini, santai saja mengucapkan Selamat Natal, tepat di malam Natal. 25 Desember memang tanggal yang diyakini sebagai tanggal kelahiran Yesus, meski ada juga pendapat lain yang menyebutkan kelahirannya tidak pada tanggal tersebut. Hal ini juga terjadi pada kelahiran Sayyidina Muhammad, yang memiliki banyak versi. Hanya saja versi terkuatnya untuk kelahiran Sayyidina Muhammad adalah tanggal 12 Robiul Awal. Sebagai upaya mengakui kontroversi tanggalnya, leluhur desaku memakai kata Maulud sebagai kata yang dipakai ketika memperingati kelahiran nabi, bukan Maulid . Kata Maulud sendiri merupakan isim maf’ul (objek), yang bererti dengan memakai kata maulud , kami memperingati kelahiran orangnya, yakni Sayyidina Muhammad. Sedangkan maulid, merupakan isim zaman (keterangan waktu), yang berarti memperingati tanggalnya. Atas dasar inilah kami (warga desa Colo, Kudus) lebih suka menggunakan kata Maulud, meski tidak pernah menyalahkan mereka yang menggunakan kata maulid. Anyway , yang penting kan bancaan dapat jajan kan?

* Kembali pada peringatan Natal, kelahiran Yesus atau Isa. Sebenarnya ada yang miris dalam peringatan Natal. Nuansa kehadiran Yesus seringkali kalah populer daripada kehadiran Santa. Padahal acara utamanya ya memperingati Yesus, bukan Santa. Hal ini berimbas pula pada Maria, ibunda Yesus, yang seolah-olah tertutupi. Secara kronologis, jika mau meruntut peristiwa kelahiran Yesus, bukan hanya kelahiran bayi mulia saja. Namun mengenang pula perjuangan hebat dari perempuan agung, Maria. Maria adalah tipikal perempuan yang kuat hatinya, berat perjuangannya, dan luar biasa penderitaanya, ketika beliau melahirkan bayi bernama Yesus. Bagiku, hal inilah yang paling menarik dalam acara Natal. Bukan sekedar memberikan ucapan selamat dan bertukar kado. Beban psikologis yang diderita Maria adalah karena kelahirannya tanpa didahuli pernikahan dan tidak ada laki-laki yang mengakui menjadi ayahnya Yesus. Meski demikian, Imam Ja’far Al Barzanji menyebut Maria dalam Buku Berjanjen , sebagai Sang Perawan ( Maryam Al ‘Adzro’ ). Sebagai ungkapan mengagungkan Maria. Dengan demikian, bukan saja mengenang kelahiran bayi mulia (Yesus), melainkan juga memperingati perjuangan ibu menghadapi tekanan yang sangat kuat. Maria pun dengan arif dan bijaksana tidak membuang Yesus, namun merawatnya dengan penuh kasih sayang.

* Menurut keyakinan orang Islam, Yesus hanyalah rosul dan nabi. Kata “hanya” seringkali dianggap oleh kalangan Kristen mereduksi kemuliaan Yesus. Padahal nabi dan rosul menempati kasta paling mulia dalam hierarki semua ciptaan Tuhan. Bahkan dalam kasta para nabi dan rosul, Yesus bersama Noah, Abraham, Moses, dan Muhammad, berada dalam jajaran jenderal-nya para nabi dan rosul, atau disebut sebagai ulul azmi atau the big five . Sehingga meski disebut Yesys “hanya” nabi dan rosul, bukan berarti mereduksi kemuliaan Yesus. Justru Yesus menempati posisi yang amat mulia. Dalam keyakinan Nahdliyin (orang NU), Yesus dipercaya akan memberikan pertolongan kepada umat manusia di hari akhir nanti. Secara tradisi, memperingati kelahiran atau wafatnya tokoh bagi warga Nahdliyin juga hal biasa. Bisa dilihat pada daerah berbasis Nahdliyin, betapa semaraknya pada bulan Robiul Awal (peringatan Sayyidina Muhammad) ataupun tanggal lain (misalnya 15 Muharrom sebagai haul Sunan Muria).

* Memperingati kelahiran Yesus, bagiku, bukanlah hal yang dilarang. Bahkan menurutku adalah anjuran, seperti ketika memperingati kelahiran Sayyidina Muhammad atau haul para kiai. Begitu juga berbagi ucapan selamat Natal. Bagiku ucapan tersebut bukan serta merta menjual aqidah -ku. Aku ikut Natal-an dengan keyakinan dan caraku sendiri, yang tentunya berbeda dengan keyakinan umat Kristiani. Meski aku pun memandang Yesus bukan sebagai manusia biasa, sebagai makhluk Tuhan yang sangat mulia dan luar bisa. Kelahirannya adalah keajaiban tersendiri yang menunjukkan kuasa Tuhan. Akhir kata, Selamat Natal, damai dan sejahtera, serta bersama membangun peradaban dalam ke-bhineka-an keyakinan.

ConversionConversion EmoticonEmoticon

:)
:(
=(
^_^
:D
=D
=)D
|o|
@@,
;)
:-bd
:-d
:p
:ng
:lv
Thanks for your comment