Kontroversi: Anti-Semitisme Mohamed Salah



Sikap anti-semitisme Salah ini terungkap saat Basel berjumpa dengan klub asal Israel, Maccabi Tel Aviv di babak kualifikasi Liga Champions 2013-14. Dalam laga leg pertama di St. Jakob-Park, Salah meninggalkan sepasang sepatu di pinggir lapangan sebelum laga dimulai. Ia lantas menepi sendirian untuk mengganti sepatu sesaat setelah masuk ke lapangan bersama dengan perangkat pertandingan, sebagai alasan menghindari seremoni jabat tangan dengan para pemain Maccabi.

Alasan politis ditengarai menjadi penyebab dari tindakan Salah tersebut. Seperti yang diketahui bersama, Mesir dan sejumlah negara Arab lainnya memang memiliki hubungan yang kurang baik dengan Israel dan komunitas Yahudi. Afeksi Salah yang kuat terhadap bangsa, etnis, dan agama yang dianutnya membuat ia berani menunjukkan resistensi terhadap Israel secara terang-terangan.

Pemain berusia 21 tahun ini sempat menyatakan bahwa ia tidak ingin pergi ke Israel untuk menjalani laga leg kedua, namun pada akhirnya ia tetap turut serta dalam rombongan Basel yang bertolak ke Tel Aviv. Sebelum berangkat, Salah sempat menegaskan kembali sikapnya yang anti Israel.

"Sepakbola lebih penting dari politik, itu adalah profesi saya. Saya akan berpikir bahwa saya tengah bermain di Palestina, bukan Israel," tegas Salah.

"Saya akan mencetak gol dan menang di sana. Bendera Zionis tak akan berkibar di Liga Champions."

Pemilik bernomor punggung 22 ini membuktikan ucapannya dengan mencetak satu gol ke gawang Maccabi dan membantu timnya bermain imbang 3-3. Basel akhirnya lolos ke babak berikutnya berkat keunggulan agregat 4-3.

Lantas bagaimana dengan seremoni jabat tangan di Israel? Salah mengakalinya dengan mengepalkan tangan saat melakukan high fivedengan para pemain Maccabi.



Sebagai catatan, selain Salah sebenarnya Basel memiliki satu orang pemain asal Negeri Piramida lagi, yaitu gelandang Mohamed Elneny. Pemain berusia 21 tahun ini juga turun dalam dua leg melawan Maccabi, tapi tanpa menunjukkan reaksi penolakan secara gamblang terhadap pemain Israel. Hal tersebut membuktikan bahwa sikap yang diambil Salah merupakan inisiatif perseorangan, bukan kelompok.

Aksi tersebut membuat Salah menjadi cult hero bagi masyarakat Mesir dan juga dunia Arab. Pemain kelahiran Kota Basyoun ini memang memiliki kecintaan yang sangat mendalam terhadap tanah airnya, salah satu wujudnya adalah ia tidak berselebrasi saat mencetak dua gol di kualifikasi lanjutan lawan Ludogorets pada bulan Agustus 2013.

Pasalnya, pada saat yang sama Mesir tengah dilanda perang saudara yang memakan korban jiwa yang tidak sedikit. "Tak ada yang lebih penting bagi saya selain darah dari saudara setanah air. Saya tak akan merayakan gol sampai konflik itu selesai."

Di sisi lain, sikap antipati Salah yang terlihat secara terang-terangan ini membuatnya dimusuhi oleh komunitas Yahudi di Eropa. Sampai saat ini, perilaku anti-semitisme masih merupakan hal yang tabu untuk ditunjukkan secara terbuka di Benua Biru, bahkan pelakunya tak jarang harus berurusan dengan hukum pengadilan.

Kasus Quenelle Nicolas Anelka

Sentimen terhadap simbol anti Yahudi juga terjadi di Premier League, kompetisi yang akan segera dimasuki oleh Salah. Tengok saja apa yang terjadi pada striker West BromNicolas Anelka yang tengah terancam sanksi larangan bermain minimal lima laga setelah melakukan gestur quenelle usai mencetak gol dalam laga kontra West Ham, 28 Desember 2013 lalu.

Gestur quenelle, yang dilakukan dengan meletakkan telapak tangan ke arah bahu yang berlawanan, selama ini dianggap sebagai simbol anti Yahudi yang dipopulerkan oleh aktivis politik sekaligus komedian asal Prancis, Dieudonne M'bala M'bala.
Gestur quanelle yang ditunjukkan Anelka dalam laga kontra West Ham


Anelka sendiri telah mengkonfirmasi bahwa gestur tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk mendukung gerakan anti-semitisme, melainkan simbol anti kemapanan sekaligus dedikasi terhadap Dieudonne yang merupakan teman dekatnya.

FA selaku otoritas yang berwenang di Premier League masih terus mengusut kasus tersebut. Striker asal Prancis ini didakwa melanggar peraturan FA poin E3 tentang tindakan yang menyinggung etnis, ras, atau agama tertentu.

Roger Cukierman, Wakil Presiden dari World Jewish Congress, pernah mengatakan bahwa quenelle hanya akan berkonotasi anti Yahudi jika dilakukan di dalam Sinagog atau seremonial mengenang korban Holocaust. Meski demikian, reaksi negatif dari mayoritas komunitas Yahudi Eropa turut menjadi pertimbangan bagi FA yang kemungkinan besar akan tetap menjatuhkan hukuman kepada Anelka.

Meskipun belum FA belum memberikan keputusan resmi tentang hukuman Anelka, namun West Brom sudah kena batunya setelah sponsor utama mereka, Zoopla mengakhiri kerja sama antara kedua pihak begitu musim ini berakhir. Pemilik Zoopla yang merupakan keturunan Yahudi,Alex Chesterman menganggap bahwa tindakan Anelka tidak dapat ditoleransi lagi.

Sebelum Anelka, dua pemain Prancis lainnya yaitu Samir Nasri danMamadou Sakho juga sempat terjerat masalah serupa karena melakukan quenelle di luar lapangan. Senada dengan Anelka, Nasri juga beranggapan bahwa isyarat tersebut merupakan simbol anti kemapanan dan meminta maaf secara terbuka akibat tindakan tersebut. Sementara Sakho berdalih bahwa foto quanelle-nya telah dimanipulasi oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

Bahaya Laten Anti-Semitisme Salah

Berkaca dari kasus Anelka di atas, tentu Salah harus berhati-hati untuk lebih mengontrol perilakunya di Premier League. Gestur Anelka yang masih ambigu saja kemungkinan besar akan dihukum oleh FA, apalagi Salah yang terang-terangan menunjukkan sikap anti Yahudi ke hadapan publik.

Salah sepertinya sudah memikirkan baik-baik tentang dampak yang akan diterimanya jika menunjukkan resistensi serupa di Inggris. Jajaran petinggi Chelsea sendiri saat ini diisi oleh sejumlah sosok keturunan Yahudi, sebut saja Owner Roman Abramovich, Chairman Bruce Buck, dan DirekturEugene Tenenbaum. Kalau pemain bertinggi 175 cm ini mengulang kontroversi rasial serupa di Inggris, besar kemungkinan ia juga akan mendapatkan hukuman dari internal klub.

Bruce Buck (kiri) bersama Roman Abramovich


Manajer Jose Mourinho sendiri juga telah berusaha meredam isu sensitif yang melibatkan pemain barunya ini sejak awal. Pria asal Portugal berbicara langsung kepada media dan menjamin Salah tak akan mengulangi tindakannya di masa lalu.

"Kita semua tahu klub seperti apa Chelsea itu dan pelatih seperti apa saya. Chelsea bisa membantu orang untuk menghormati semuanya. Kami sangat terbuka serta menunjukkan respek kepada semua etnis dan agama, semua orang berhak menjadi diri mereka," tukas The Happy One.

"Kami sudah menganalisis situasinya. Kami sudah bicara dengan sang pemain dan orang-orang terdekatnya. Dia menghadapi situasi itu pada usia 20 tahun, pasti sulit baginya. Dia hanya sedang mencari jati diri."

Kini segalanya kembali lagi kepada Salah untuk bisa seratus persen fokus pada olahraga dan melupakan faktor-faktor non teknis di luar sepakbola. Tantangan berat untuk menembus skuat inti sudah menanti. SepeninggalJuan Mata dan Kevin De Bruyne, Salah masih harus bersaing dengan sejumlah attacker jempolan seperti Andre SchurrleEden Hazard,Willian, dan Oscar.

Terlibat kontroversi yang tidak perlu, atau bahkan terjerat skorsing akibat sentimen anti Yahudi, hanya akan berdampak buruk bagi Salah dan Chelsea. Berkaca pada pengalaman sejumlah pemain Mesir yang sebelumnya bermain di Inggris seperti Mido dan Amr Zaki, Salah kemungkinan juga akan mendapatkan sejumlah intimidasi rasial dari suporter lawan. Karena itulah, ia harus benar-benar memegang kendali atas dirinya sendiri agar tidak lepas kontrol dan mengganggu perkembangan karirnya bersama The Blues.

sumber
Previous
Next Post »
Thanks for your comment